Peran Kritis Human Resource dalam Menjaga Keberlanjutan Bisnis Jangka Panjang

Blog 05 June 2026 Oleh: Tim Cipta Progresa
Peran Kritis Human Resource dalam Menjaga Keberlanjutan Bisnis Jangka Panjang

Peran Kritis Human Resource dalam Menjaga

Keberlanjutan Bisnis Jangka Panjang

 

 

 

1. Pendahuluan

 

Dalam percakapan bisnis modern, keberlanjutan sering kali dipersepsikan sebagai urusan keuangan, inovasi produk, atau strategi pasar. Namun, satu variabel paling determinan yang kerap luput dari sorotan adalah manusia dan siapa yang mengelola manusia-manusia itu. Di sinilah fungsi Human Resource (HR) menemukan relevansinya yang paling fundamental: bukan sekadar sebagai pengelola kontrak kerja dan administrasi penggajian, melainkan sebagai arsitek kapital manusia yang menentukan apakah sebuah organisasi mampu bertahan, tumbuh, dan relevan dalam jangka panjang.

 

Keberlanjutan bisnis jangka panjang bergantung pada kemampuan sebuah organisasi untuk secara konsisten menghasilkan nilai bagi pemegang saham, karyawan, pelanggan, dan masyarakat luas. Nilai tersebut tidak tumbuh dari mesin atau algoritma semata; ia tumbuh dari manusia yang termotivasi, kompeten, dan terikat secara emosional pada misi organisasi.

 

US$438 Miliar

Kerugian produktivitas global akibat penurunan keterlibatan karyawan sebesar 2% pada tahun 2024 turun dari 23% ke 21% (Gallup, State of the Global Workplace: 2025 Report). Ini merupakan penurunan keterlibatan kedua dalam 12 tahun terakhir.

 

Artikel ini menelaah secara mendalam lima dimensi peran kritis HR dalam menjaga keberlanjutan bisnis, didukung oleh data empiris yang terverifikasi dari lembaga-lembaga terkemuka, serta menyisipkan pelajaran dari praktik nyata Patagonia salah satu perusahaan yang paling sering dikutip sebagai bukti bahwa HR yang terintegrasi dengan nilai inti bisnis adalah investasi jangka panjang yang tak ternilai.

 

2. Evolusi Peran HR: Dari Administratif Menuju Strategis

 

Selama beberapa dekade, departemen HR identik dengan tiga tugas pokok: rekrutmen, penggajian, dan kepatuhan hukum ketenagakerjaan. Model ini bekerja cukup baik di era industri, ketika keunggulan kompetitif ditentukan oleh efisiensi proses dan skala produksi. Namun, lanskap bisnis telah berubah secara fundamental.

 

Di era ekonomi berbasis pengetahuan dan percepatan digital, keunggulan kompetitif sejati terletak pada kualitas, kreativitas, dan komitmen manusia. Dave Ulrich, profesor di Ross School of Business Universitas Michigan, berargumen bahwa HR harus memainkan empat peran simultan: administrative expert, employee champion, change agent, dan strategic partner (Ulrich, 1997). Dalam konteks keberlanjutan bisnis, peran keempat inilah yang paling determinan.

 

Penelitian oleh HR.com's Future of HR Skills and Strategies 2025 menemukan bahwa organisasi yang memberi HR kursi di meja strategi hampir tujuh kali lebih mungkin mengalokasikan waktu substansial untuk perencanaan strategis, dan lebih dari dua kali lebih mungkin memandang HR sebagai mitra setara (HR.com, 2025).

 

Matriks Peran HR dan Dampaknya terhadap Keberlanjutan Bisnis

 

Peran HR

Fungsi Strategis

Dampak terhadap Keberlanjutan Bisnis

Akuisisi & Retensi Talenta

Menarik kandidat yang selaras nilai; mengelola EVP (Employee Value Proposition)

Menekan biaya pergantian; menjaga kesinambungan pengetahuan institusional

Pengembangan SDM

Merancang program pelatihan, reskilling, dan upskilling selaras kebutuhan bisnis masa depan

Membangun tenaga kerja adaptif yang siap menghadapi disrupsi teknologi

Manajemen Kinerja

Menetapkan OKR/KPI; memberikan umpan balik; menghubungkan kinerja individu dengan tujuan organisasi

Mendorong produktivitas berkelanjutan dan akuntabilitas di semua level

Budaya & Keterlibatan

Membangun budaya organisasi yang inklusif, psikologis aman, dan berorientasi pertumbuhan

Menurunkan disengagement; meningkatkan inovasi; memperkuat employer brand

Kepatuhan & Risiko SDM

Memastikan kepatuhan hukum ketenagakerjaan; mengelola risiko reputasi; mengintegrasikan prinsip ESG dalam praktik HR

Melindungi bisnis dari risiko hukum, reputasional, dan sosial

 

Tabel 1. Lima Peran Strategis HR dan Dampaknya terhadap Keberlanjutan Bisnis (Sumber: Adaptasi dari SHRM, 2025; Ulrich, 1997; Gallup, 2025)

 

3. Peran Pertama: Akuisisi dan Retensi Talenta

 

Keberlanjutan bisnis dimulai dari siapa yang direkrut. McKinsey menemukan bahwa dalam posisi bersifat knowledge-intensive dan berkompleksitas tinggi, individu yang berkinerja tinggi dapat menghasilkan output 8 kali lipat lebih besar dibandingkan rata-rata rekan mereka (McKinsey, 2001). Keputusan rekrutmen tunggal dapat mengubah lintasan sebuah unit bisnis secara dramatis.

 

Kegagalan rekrutmen memiliki biaya yang sangat tinggi. SHRM memperkirakan biaya merekrut karyawan baru rata-rata sebesar US$4.700 per posisi untuk proses rekrutmen langsung (SHRM). Namun biaya sesungguhnya dari kehilangan seorang karyawan jauh lebih besar mencakup hilangnya pengetahuan institusional, gangguan produktivitas tim, penurunan moral, dan biaya pelatihan karyawan pengganti. Gallup memperkirakan total biaya mengganti seorang karyawan berkisar antara 50% hingga 200% dari gaji tahunannya, tergantung pada tingkat dan kompleksitas jabatan (Gallup). Untuk posisi manajerial dan senior, biaya penggantian dapat mencapai 200% dari gaji tahunan.

 

SHRM mencatat bahwa lebih dari 51% CHRO (Chief Human Resource Officer) menjadikan pengembangan kepemimpinan dan manajer sebagai prioritas utama sinyal kuat bahwa perusahaan-perusahaan terdepan memandang investasi pada manusia sebagai jaminan keberlanjutan (SHRM, 2025).

 

4. Peran Kedua: Pengembangan SDM dan Ketahanan Tenaga Kerja

Bisnis yang berkelanjutan adalah bisnis yang future-proof mampu menghadapi disrupsi yang belum ada bentuknya hari ini. Fungsi pengembangan SDM dalam HR adalah garis pertahanan pertama terhadap ancaman ini.

 

120 Juta Pekerja

IBM Institute for Business Value memperkirakan sebanyak 120 juta pekerja di 12 ekonomi terbesar dunia mungkin perlu dilatih ulang atau reskilled akibat dampak AI dan otomasi dan ancaman ini terus mengintensif (IBM IBV, 2020).

 

Dalam konteks ini, HR tidak lagi sekadar menjadwalkan pelatihan; HR menjadi arsitek kapabilitas organisasi masa depan. Program upskilling dan reskilling yang dirancang HR harus selaras dengan peta strategi bisnis 3–5 tahun ke depan. SHRM Chief Human Resources Officer Jim Link merumuskannya dengan tepat: "Dahulu kita berpikir tentang keberlanjutan bisnis dalam kaitannya dengan aset fisik. Ke depan, kita akan berpikir dengan cara yang sama tentang manusia." (SHRM, 2025).

 

Patagonia perusahaan pakaian outdoor yang didirikan Yvon Chouinard pada tahun 1973 dan kini membukukan pendapatan tahunan lebih dari US$1 miliar adalah contoh ilustratif dari bagaimana pengembangan SDM yang tertanam dalam nilai bisnis menghasilkan ketahanan luar biasa. Environmental Internship Program memungkinkan karyawan mengambil cuti berbayar hingga dua bulan untuk berkarier sementara di organisasi lingkungan hidup pilihan mereka (Patagonia, 2024).

 

5. Peran Ketiga: Membangun Keterlibatan dan Budaya Organisasi

 

Gallup memperkirakan ketidakterlibatan karyawan secara global merugikan ekonomi dunia senilai US$8,9 triliun per tahun setara dengan 9% PDB global (Gallup, State of the Global Workplace: 2024 Report, berdasarkan data 2023). Di tingkat perusahaan, tim yang sangat terlibat terbukti 23% lebih produktif dan 59% lebih rendah tingkat pergantiannya dibandingkan tim yang tidak terlibat (Gallup, 2023).

Keterlibatan karyawan bukan terjadi secara kebetulan. Gallup juga menemukan bahwa manajer bertanggung jawab atas 70% dari varians keterlibatan tim (Gallup, 2024). Ini berarti investasi HR dalam seleksi, pengembangan, dan pendampingan manajer adalah investasi langsung dalam keterlibatan dan produktivitas seluruh tim di bawahnya.

Patagonia mencatat tingkat employee turnover kurang dari 4% jauh di bawah rata-rata industri consumer product/retail yang mencapai sekitar 13% secara tahunan (AIM2Flourish; WEF/Industry Net Zero Accelerator, 2024). Selain itu, sekitar 95–100% ibu yang kembali bekerja pasca-cuti melahirkan tetap bertahan di perusahaan berkat program childcare on-site sebuah indikator keterlibatan dan loyalitas yang jarang dicapai perusahaan mana pun (Patagonia; Employee Benefit News, 2017).

 

 

6. Peran Keempat: Manajemen Kinerja yang Terhubung dengan Strategi

 

Manajemen kinerja yang efektif adalah jembatan antara ambisi strategis organisasi dan eksekusi sehari-hari di lapangan. HR yang mampu menghubungkan tujuan bisnis jangka panjang dengan OKR (Objectives and Key Results) atau KPI individu menciptakan ekosistem akuntabilitas yang memperkuat keberlanjutan secara organik.

 

Tantangannya adalah bahwa banyak sistem manajemen kinerja masih bersifat retrospektif—menilai apa yang sudah terjadi, bukan membangun kapabilitas untuk menghadapi apa yang akan datang. HR yang kritis justru merancang sistem yang bersifat forward-looking: mengidentifikasi kompetensi kritis masa depan, mengukur pertumbuhan individu, dan menciptakan siklus umpan balik yang bermakna dan berkelanjutan.

 

 

7. Peran Kelima: Kepatuhan, Risiko SDM, dan Integrasi ESG

 

Dimensi kelima peran kritis HR dalam keberlanjutan bisnis adalah dimensi yang paling sering diabaikan hingga krisis datang: kepatuhan hukum, pengelolaan risiko sumber daya manusia, dan integrasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam praktik kerja.

 

Penelitian dari jurnal Corporate Social Responsibility and Environmental Management menemukan bahwa selama periode 1996–2023, HR memainkan peran fundamental dalam pencapaian keberlanjutan korporat dan perusahaan memiliki tanggung jawab untuk menerapkan prinsip keberlanjutan ke dalam praktik HRM itu sendiri (Campos-García et al., 2024).

 

Pelanggaran ketenagakerjaan, diskriminasi, pelecehan di tempat kerja, atau kegagalan menjamin keselamatan kerja tidak hanya berpotensi melahirkan tuntutan hukum ia dapat menghancurkan employer brand dan kepercayaan publik yang dibangun selama puluhan tahun dalam hitungan minggu. HR yang kritis adalah garis pertahanan proaktif: membangun kebijakan yang jelas, melatih manajer secara berkala, menciptakan saluran pelaporan yang aman (safe reporting channels), dan memastikan bahwa organisasi selalu berada di sisi yang benar dari standar hukum dan etika.

 

8. HR sebagai Mitra Bisnis: Dari Biaya Menjadi Investasi

 

Salah satu pergeseran paradigma terpenting yang perlu terjadi dalam cara organisasi memandang HR adalah menggeser perspektif dari "HR sebagai pusat biaya" menjadi "HR sebagai pusat investasi dan nilai". Perspektif yang pertama mendorong pemimpin untuk memotong anggaran HR saat tekanan finansial datang—sebuah keputusan yang sering terbukti kontraproduktif dalam jangka panjang.

 

Data menunjukkan dengan jelas sisi lain dari persamaan ini. Studi Gallup menemukan bahwa tim yang sangat terlibat mampu menghasilkan 21% keuntungan lebih tinggi dibandingkan tim yang tidak terlibat (Gallup, 2023). SHRM menemukan bahwa karyawan yang merasa diakui keberadaannya 4 kali lebih mungkin terlibat dan 5 kali lebih mungkin merasakan keterikatan dengan budaya perusahaan (SHRM, 2025).

 

Paradigma ini juga yang dianut Patagonia. Lebih dari 1.000 karyawan Patagonia telah memanfaatkan program magang lingkungan berbayar (WEF, 2024), dan perusahaan mempertahankan tingkat turnover yang hampir nol di tengah industri yang penuh dengan angka turnover yang mengkhawatirkan. Investasi pada manusia, dalam hal ini, adalah investasi pada ketahanan bisnis itu sendiri.

 

9. Tantangan yang Dihadapi HR dalam Menjalankan Peran Strategisnya

 

Menjalankan peran strategis ini tidak tanpa hambatan. Beberapa tantangan terbesar yang dihadapi fungsi HR saat ini antara lain:

 

  • Kesenjangan Keterampilan HR itu Sendiri: com (2025) menemukan bahwa meskipun peran HR semakin strategis, masih terdapat kesenjangan kompetensi yang signifikan—terutama dalam analitik data, literasi AI, dan manajemen perubahan. HR yang tidak berinvestasi pada kompetensi dirinya sendiri tidak akan mampu memimpin transformasi talenta organisasi.
  • Tekanan Biaya yang Kontraproduktif: 61% CHRO mengidentifikasi inflasi upah dan 45% menyebut kenaikan biaya operasional sebagai tantangan utama (SHRM, 2025). Tekanan ini sering kali mendorong keputusan jangka pendek yang merugikan jangka panjang, seperti pemangkasan anggaran pelatihan saat organisasi paling membutuhkannya.
  • Resistensi Budaya terhadap Perubahan: Transformasi HR dari fungsi administratif ke mitra strategis memerlukan perubahan cara pandang seluruh jajaran kepemimpinan—sebuah perjalanan yang membutuhkan waktu, konsistensi, dan dukungan CEO.
  • Disrupsi Teknologi yang Cepat: Kecepatan perubahan teknologi—khususnya AI—memaksa HR untuk secara terus-menerus merevisi kerangka kompetensi dan program pengembangan, bahkan sebelum program sebelumnya selesai diimplementasikan.
  • Pengukuran Dampak yang Kompleks: Dampak HR bersifat jangka panjang dan sering kali tidak langsung terlihat dalam laporan keuangan kuartalan—sebuah realitas yang membuat HR rentan terhadap skeptisisme dari pemimpin yang berorientasi jangka pendek.

 

10. Kesimpulan

 

Human Resource bukan sekadar fungsi pendukung dalam struktur organisasi ia adalah tulang punggung keberlanjutan bisnis jangka panjang. Ketika HR menjalankan perannya secara strategis—merekrut talenta yang tepat, mengembangkan kompetensi masa depan, membangun budaya keterlibatan yang kuat, mengelola kinerja yang terhubung dengan strategi, serta memastikan kepatuhan dan integrasi nilai ESG maka organisasi memiliki fondasi yang kokoh untuk bertahan menghadapi disrupsi apa pun.

 

Data dari Gallup, SHRM, McKinsey, dan IBM memberikan konfirmasi yang konsisten: investasi pada manusia adalah investasi dengan imbal hasil terpanjang dan paling berkelanjutan. Dan Patagonia dengan tingkat turnover kurang dari 4%, tingkat kembali kerja ibu pasca-melahirkan antara 95-100%, dan pendapatan tahunan yang terus tumbuh melampaui US$1 miliar membuktikan bahwa HR yang terintegrasi dengan nilai bisnis bukan hanya menghasilkan karyawan yang bahagia, melainkan bisnis yang benar-benar berkelanjutan.

 

Bagi pemimpin bisnis hari ini, pesan yang paling mendesak adalah ini: jangan perlakukan HR sebagai departemen yang hanya aktif saat ada masalah karyawan. Jadikan HR sebagai mitra strategis sejak hari pertama dalam setiap keputusan besar dari ekspansi pasar hingga transformasi digital. Karena pada akhirnya, strategi terbaik sekalipun tidak akan berjalan tanpa manusia yang tepat untuk menjalankannya.

 

Daftar Referensi

 

  1. Campos-García, I., et al. (2024). Human resource management and sustainability: Bridging the 2030 agenda. Corporate Social Responsibility and Environmental Management. Wiley Online Library. https://doi.org/10.1002/csr.2680
  2. Gallup. (2023). State of the Global Workplace: 2023 Report. Gallup, Inc. https://www.gallup.com/workplace/349484/state-of-the-global-workplace.aspx
  3. Gallup. (2025). State of the Global Workplace: 2025 Report — Global Employee Engagement Drops for Only the Second Time in 12 Years, Costing the World's Economy US$438 Billion. https://www.prnewswire.com/news-releases/global-employee-engagement-drops-for-only-the-second-time-in-12-years-costing-the-worlds-economy-us438-billion-302434901.html
  4. IBM Institute for Business Value. (2020, October 16). Accelerating the Journey to HR 3.0: COVID-19 is Accelerating the Skills Gap and Raising Employee Expectations. IBM Newsroom. https://newsroom.ibm.com/2020-10-16-IBM-Study
  5. McKinsey & Company. (2001). The War for Talent. McKinsey Quarterly.
  6. McKinsey & Company. (2008). Why multinationals struggle to manage talent. McKinsey Quarterly, 19–25.
  7. SHRM. (2025). 2025 State of the Workplace and CHRO Priorities and Perspectives Report. Society for Human Resource Management. https://www.shrm.org/about/press-room
  8. Ulrich, D. (1997). Human Resource Champions: The Next Agenda for Adding Value and Delivering Results. Harvard Business School Press.
  9. Employee Benefit News. (2017). Patagonia's secret to employee engagement? Onsite daycare. https://www.benefitnews.com/news/patagonias-secret-to-employee-engagement-onsite-daycare
  10. HR.com & HR Research Institute. (2025, March 10). HR Must Secure a Seat at the Strategy Table to Drive Business Success. HR.com's Future of HR Skills and Strategies 2025.
  11. Patagonia. (2024). Environmental Internship Program. Patagonia Works. https://www.patagonia.com/our-footprint/environmental-internship-program.html
  12. Patagonia. (2021). Why Should Employers Care About Families? https://www.patagonia.com/stories/why-should-employers-care-about-families/story-30845.html
  13. World Economic Forum/Industry Net Zero Accelerator. (2024). Patagonia — Sparking the Sustainability Cultural Shift at Every Level. https://initiatives.weforum.org/industry-net-zero-accelerator/case-study-details/patagonia
Hubungi Kami
WA Avatar
Nanda Marketing +62 813-1888-879
Online