Training Needs Analysis: Cara Menentukan Kebutuhan Pelatihan Secara Objektif

Blog 16 July 2026 Oleh: Tim Cipta Progresa
Training Needs Analysis: Cara Menentukan Kebutuhan Pelatihan Secara Objektif
TNA Insight Series · #003

Training Needs Analysis (TNA): Cara Menentukan Kebutuhan Pelatihan Secara Objektif

Mengapa Competency Mapping, Performance Appraisal, dan Training Needs Analysis Harus Berjalan Bersama

 

Banyak perusahaan masih menentukan program training berdasarkan usulan masing-masing departemen. Padahal, keputusan pelatihan yang efektif seharusnya dibangun dari data kompetensi, kinerja, dan kebutuhan bisnis yang terintegrasi.

Pelatihan yang tepat bukan ditentukan oleh banyaknya usulan training, tetapi oleh kemampuan organisasi mengidentifikasi kebutuhan kompetensi secara objektif.

Bagaimana Perusahaan Menentukan Kebutuhan Training?

Setiap tahun organisasi menyusun Annual Training Plan sebagai bagian dari strategi pengembangan SDM.

Berbagai usulan training mulai dikumpulkan.

Ada yang mengusulkan Leadership Training.

Ada yang meminta Excel Training.

Ada pula yang menginginkan Communication Training.

Namun muncul satu pertanyaan yang sering terlupakan.

Bagaimana sebenarnya perusahaan menentukan bahwa seorang karyawan benar-benar membutuhkan training?

Inilah pertanyaan yang menjadi pembahasan dalam TNA Insight Series #003, yaitu bagaimana organisasi dapat menentukan kebutuhan pelatihan secara lebih objektif melalui integrasi Competency Mapping, Performance Appraisal, dan Training Needs Analysis (TNA).

Mengapa Banyak Program Training Kurang Tepat Sasaran?

Dalam praktiknya, perusahaan menggunakan berbagai pendekatan.

Beberapa organisasi sudah memiliki Competency Mapping.

Sebagian menggunakan hasil Performance Appraisal.

Sebagian lainnya masih mengandalkan usulan dari atasan langsung.

Tidak ada pendekatan yang sepenuhnya salah.

Namun apabila hanya menggunakan satu sumber data, keputusan training menjadi kurang komprehensif.

Akibatnya:

  • peserta yang dipilih kurang tepat;
  • materi belum sesuai kebutuhan;
  • anggaran training kurang efektif;
  • pelatihan tidak mendukung target bisnis; dan
  • dampak training sulit diukur.

Karena itu organisasi memerlukan pendekatan yang menghubungkan seluruh sumber informasi tersebut dalam satu proses pengambilan keputusan.

Competency Mapping: Memulai dari Standar Kompetensi

Pendekatan yang paling strategis dimulai dari Competency Mapping.

Competency Mapping adalah proses menetapkan kompetensi yang harus dimiliki pada setiap jabatan, kemudian membandingkannya dengan kompetensi aktual yang dimiliki karyawan.

Melalui proses ini perusahaan dapat mengetahui:

  • kompetensi apa yang dibutuhkan;
  • kompetensi apa yang sudah dimiliki;
  • kompetensi mana yang masih memiliki gap; dan
  • bentuk pengembangan yang paling sesuai.

Apabila ditemukan Competency Gap, organisasi dapat menentukan intervensi yang tepat, baik berupa:

  • Training;
  • Coaching;
  • Mentoring;
  • Job Assignment;
  • On-the-Job Training;
  • Knowledge Sharing; atau
  • Development Program lainnya.

Dengan demikian, keputusan pengembangan tidak lagi berdasarkan asumsi, tetapi berdasarkan standar kompetensi yang jelas.

Performance Appraisal: Mengukur Hasil, Bukan Langsung Menentukan Training

Performance Appraisal merupakan sumber informasi yang sangat penting.

Melalui evaluasi kinerja, perusahaan dapat melihat:

  • pencapaian KPI;
  • kualitas hasil kerja;
  • perilaku kerja;
  • disiplin;
  • kontribusi terhadap tim; dan
  • area yang masih perlu ditingkatkan.

Namun perlu dipahami bahwa nilai appraisal yang rendah belum tentu berarti seseorang membutuhkan training.

Misalnya seorang karyawan memperoleh nilai rendah karena:

  • target yang terlalu tinggi;
  • sistem kerja belum mendukung;
  • alat kerja kurang memadai;
  • koordinasi antarunit kurang baik;
  • kurangnya dukungan dari atasan; atau
  • proses kerja yang tidak efektif.

Dalam kondisi tersebut, training bukan solusi utama.

Performance Appraisal berfungsi sebagai indikator adanya masalah, sedangkan penyebab masalah tetap perlu dianalisis lebih lanjut.

Mengapa Tidak Cukup Berdasarkan Usulan Departemen?

Di banyak organisasi, kebutuhan training berasal dari usulan masing-masing unit kerja.

Pendekatan ini memang memberikan kesempatan kepada atasan untuk menyampaikan kebutuhan timnya.

Namun apabila tidak diverifikasi menggunakan data, terdapat beberapa risiko.

  • Training diberikan kepada orang yang sebenarnya tidak membutuhkan.
  • Kompetensi yang dikembangkan tidak mendukung strategi bisnis.
  • Anggaran training digunakan untuk program yang kurang prioritas.
  • Program training hanya menjadi agenda administratif tahunan.

Karena itu, usulan departemen sebaiknya dipandang sebagai input awal, bukan keputusan akhir.

Seluruh usulan tetap perlu divalidasi melalui proses Training Needs Analysis.

Studi Kasus

Sebuah perusahaan menerima usulan dari Departemen Produksi agar seluruh Supervisor mengikuti Leadership Training.

Alasannya karena produktivitas menurun.

HR kemudian melakukan analisis.

Hasilnya menunjukkan bahwa:

  • target produksi sering berubah;
  • mesin mengalami downtime tinggi;
  • SOP briefing belum berjalan;
  • supervisor telah mengikuti Leadership Training tahun lalu.

Dari hasil tersebut diketahui bahwa penyebab utama bukan kurangnya leadership.

Masalah lebih banyak berasal dari proses produksi.

Training masih dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan menentukan prioritas.

Namun perusahaan juga perlu:

  • memperbaiki SOP;
  • meningkatkan koordinasi;
  • memperbaiki jadwal produksi; dan
  • mengurangi downtime mesin.

Kasus ini menunjukkan bahwa satu masalah sering kali membutuhkan kombinasi antara training dan perbaikan sistem kerja.

Training Needs Analysis: Menghubungkan Seluruh Data

Training Needs Analysis merupakan proses yang menghubungkan seluruh informasi menjadi satu keputusan pengembangan.

Framework sederhananya adalah sebagai berikut.

Strategi Bisnis
Target Kinerja (KPI)
Performance Appraisal
Competency Mapping
Identifikasi Competency Gap
Root Cause Analysis
Training atau Non-Training Solution
Program Pengembangan SDM

Melalui pendekatan ini organisasi dapat menjawab tiga pertanyaan penting.

  • Siapa yang membutuhkan pengembangan?
  • Kompetensi apa yang perlu dikembangkan?
  • Mengapa pengembangan tersebut diperlukan?

Dengan demikian setiap program memiliki hubungan yang jelas dengan tujuan bisnis perusahaan.

Sumber Data yang Direkomendasikan

Dalam praktik Human Capital modern, keputusan training sebaiknya menggunakan kombinasi beberapa sumber data.

  • Competency Mapping
  • Performance Appraisal
  • KPI
  • Competency Assessment
  • Observasi lapangan
  • Wawancara dengan atasan
  • Hasil audit
  • Customer Feedback
  • Data produktivitas
  • Data kualitas
  • Data turnover
  • Strategi bisnis perusahaan

Semakin lengkap data yang digunakan, semakin objektif keputusan yang dihasilkan.

Checklist Sebelum Menentukan Program Training

Sebelum menyetujui usulan training, pastikan organisasi dapat menjawab pertanyaan berikut.

Apakah organisasi memiliki Competency Matrix?

Apakah KPI menunjukkan adanya gap?

Apakah hasil Performance Appraisal telah dianalisis?

Apakah Competency Gap sudah dipastikan?

Apakah penyebab utama sudah diverifikasi melalui Root Cause Analysis?

Apakah peserta yang dipilih memang membutuhkan program tersebut?

Apakah training merupakan solusi terbaik?

Apakah indikator keberhasilan sudah ditentukan?

Jika sebagian besar jawaban masih "belum", organisasi sebaiknya tidak langsung menyusun program training.

Lima Prinsip Menentukan Kebutuhan Training

1
Mulai dari tujuan bisnis
Jangan memulai dengan daftar training. Mulailah dari target bisnis yang ingin dicapai.
2
Gunakan data yang objektif
Keputusan pengembangan harus berbasis data, bukan asumsi.
3
Pastikan terdapat Competency Gap
Training efektif apabila benar-benar terdapat kesenjangan kompetensi.
4
Validasi melalui TNA
Seluruh informasi perlu diverifikasi melalui Training Needs Analysis sebelum menjadi keputusan.
5
Ukur dampaknya
Keberhasilan training diukur dari perubahan kompetensi, perilaku, dan kinerja.
Insight Utama

Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah menyusun Annual Training Plan langsung dari daftar usulan training.

Pendekatan yang lebih strategis adalah:

Business GoalKPIPerformance AppraisalCompetency MappingTraining Needs AnalysisProgram Pengembangan SDM

Ketika Competency Mapping, Performance Appraisal, dan TNA saling terintegrasi, perusahaan akan lebih mudah memastikan bahwa setiap investasi pengembangan SDM benar-benar mendukung peningkatan kinerja individu maupun pencapaian tujuan bisnis.

Reflection for HR Leaders

Sebelum menyusun Annual Training Plan berikutnya, coba renungkan beberapa pertanyaan berikut.

Apakah perusahaan telah memiliki Competency Matrix untuk setiap jabatan?

Apakah hasil Performance Appraisal sudah cukup objektif?

Apakah seluruh usulan training telah divalidasi menggunakan data kompetensi?

Apakah KPI telah digunakan sebagai dasar analisis?

Apakah setiap training mendukung target bisnis perusahaan?

Jika jawaban atas pertanyaan tersebut masih "belum", kemungkinan proses Training Needs Analysis di organisasi masih perlu diperkuat.

Kesimpulan

Program training yang efektif tidak dimulai dari menyusun daftar pelatihan, melainkan dari kemampuan organisasi memahami kebutuhan pengembangan secara objektif.

Competency Mapping membantu mengetahui standar kompetensi.

Performance Appraisal menunjukkan kondisi kinerja.

Training Needs Analysis menghubungkan seluruh informasi tersebut menjadi keputusan yang tepat.

Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat memastikan bahwa setiap investasi pengembangan SDM benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan kompetensi, produktivitas, dan pencapaian tujuan bisnis.

Training yang tepat bukan dimulai dari memilih materi terbaik, tetapi dari keputusan yang tepat mengenai siapa yang perlu dikembangkan, kompetensi apa yang dibutuhkan, dan mengapa pengembangan tersebut penting bagi organisasi.

Bangun Sistem Pengembangan SDM yang Lebih Strategis

PT Cipta Progresa Usaha membantu perusahaan membangun sistem pengembangan SDM berbasis data melalui:

  • Training Needs Analysis (TNA)
  • Competency Mapping
  • Competency Assessment
  • Performance Management
  • Individual Development Plan (IDP)
  • Learning & Development Roadmap
  • Evaluasi Efektivitas Training
  • Penyusunan Kamus Kompetensi dan Matriks Kompetensi

Hubungi tim PT Cipta Progresa Usaha untuk mendiskusikan kebutuhan pengembangan SDM perusahaan Anda.

Hubungi Kami
WA Avatar
Nanda Marketing +62 813-1888-879
Online